After Thirteen Years

If you eat halal and have been to the charming Jeju island in South Korea, you must’ve known about Bagdad Cafe. That small Indian restaurant, located right at the heart of Jeju city, is pretty much the only place that provides halal-licensed food on the entire island.

I had some pictures posted on Instagram about the times I was there with co-workers from Automattic, and yesterday I got some likes on them from Bagdad Cafe’s Instagram account. I didn’t know that they have a presence in Instagram, so I went and checked their pictures. And that’s when I found this fascinating announcement:

(Update: the Instagram post seems to have been archived or deleted, but I still have the written version below)

The notification says:

Thank you for all the love and support you give us. And we deeply regret to inform you that we will be closing Today (Sep. 4th, 2017) for the first time in 14-year history of BAGDAD only to come back with better service and food as an answer to your love. We sincerely apologize once again, and thank you very much for your unchanging supports.

-BAGDAD

How amazing it is that they took their first ever break after being open non-stop for thirteen years. I can’t imagine working on something continuously, every single day, throughout the seasons, for 4,748 days.

It’s quite heartwarming how they said they will come back better “as an answer to your love“. That made me feel bad that they had to apologize so much about it. It seems to me that if you’ve been available for 13 full years, you deserve all the break you want. Take all the time in the world! You’ve more than earned it already.

If I close my eyes and imagine what it’s like to be there, I’d describe it as a well-worn but clean, quiet, rustic place. I remember the small but surprisingly heavy front door that can be tricky to open (do I push, or pull?). I remember the mismatching tables they have, and the colorful ceramic tiles on them that’s cracked on the edges. I remember that they use regular stand fans instead of the more common ceiling AC for the tables at the end of the room. I remember the pictures of various international frisbee competition teams (of all sports) on the wall. I remember the ceramic elephant statue. I remember the dimly lit room, perfect for a conversation over dinner with the rest of my team.

In other words, it’s exactly how it would look like if it has been used for thirteen full years with a lot of love and care. I hope they enjoyed their break.

 

 

Tersusun dari Manusia

Satu hal yang aku temukan akhir-akhir ini adalah bahwa sebuah instansi yang kelihatannya “sempurna” dari luar, ternyata jika dilihat dari dalam akan kelihatan kalau “kesempurnaan” itu ternyata hanya tambal-sulam, campur-aduk, dan seringkali mereka sendiri tak bisa menjelaskan kenapa semua bisa berjalan sebaik yang kelihatan.

Contoh kasarnya: perusahaan tempatku bekerja sekarang sering berinteraksi dengan perusahaan teknologi besar seperti Facebook, Google, Apple, dan sejenisnya. Jika dilihat dari luar, perusahaan-perusahaan raksasa dengan pekerja-pekerja yang luar biasa cerdas ini terlihat sangat mengesankan. Produk-produknya tampak mentereng, fiturnya luar biasa, namanya terkenal di mana-mana. Tetapi di balik semua itu ada juga masalah-masalah besar kecil yang sepertinya tampak terlalu remeh untuk bisa terjadi.

Dan aku tidak bilang itu hal yang memalukan. Justru kurasa itu lebih mengesankan dan menghangatkan hati. Sebab, sesempurna apapun mereka kelihatannya, pada akhirnya mereka tersusun dari manusia-manusia. Dan ternyata ketika urusan sudah jatuh ke tangan manusia, tidak ada yang lepas dari kesalahan terlepas dari nama besar tempatnya bekerja atau atribut-atribut lainnya.

Dan yang melegakan buatku adalah bahwa kita yang masih jatuh bangun belajar dan mengembangkan diri sebenarnya tidak terpaut terlalu jauh dengan mereka yang karirnya sudah tinggi. Sama saja. Tidak ada programmer di dunia ini yang menulis program sekali jadi dan tidak ada masalah sama sekali. Sampai pada level tertinggi pun mereka juga sangat sering bingung ketika sebuah program tidak berjalan, dan juga ketika program yang sama mau berjalan. Orang jenius tentu ada, tetapi siapapun yang mau berusaha dan tidak menyerah, pada akhirnya akan bisa mencapai tingkat keahlian yang sama.

Karena pada akhirnya ternyata kita semua sama saja, sama-sama manusia. Tidak bisa sempurna.

Postingan lama yang terkait: Just A Bunch of People Like Us

Tentang Malang

Malang adalah kotaku, tapi hanya pada hari-hari tertentu. Apabila datang akhir minggu, atau hari-hari di mana jam kerja dan sekolah tak lagi berlaku, Malang penuh sesak menjadi milik siapa saja yang datang memenuhi jalan-jalan dan pertokoan.

Barangkali adalah baik melihat bagaimana kotaku tumbuh kian semarak, menarik perhatian banyak pihak. That it’s a good problem to have. Tetapi juga aku berpikir bahwa pada akhirnya Malang adalah kota kecil yang tidak bisa tumbuh ke mana-mana lagi. Penataan tidak segesit pendatangan.

Setidaknya pada hari-hari tertentu, Malang masih tenang, dan aku bersyukur untuk itu. Hanya saja ketika kulihat anakku dan kubayangkan masa depannya, tidak kutemukan jawaban yang tepat di mana lagi dia bisa menemui ruang lapang dan sunyi di kota ini.

 

 

Terima kasih

Aku suka cara orang Indonesia mengungkapkan rasa syukur kepada orang lain.

Terima kasih–please accept my love.

Bahwasanya bagi bangsa Melayu, balasan paling tepat bagi kebaikan orang lain adalah cinta. Meski orang lain itu asing, hanya sekali berjumpa dan sesudahnya tak ada berita.

Dan jawabannya pun menarik: “sama-sama”.

Kalau engkau mencintaiku atas kebaikanku, maka aku pun mencintaimu.

Orang Inggris mengatakan “thank you“–saya bersyukur kepadamu. Jawabannya terasa indah: “You’re welcome”–Anda diterima.

Bahwasanya apabila engkau bersyukur atas kebaikanku, maka engkau kuterima menjadi bagian dariku, dari kelompokku, dari mereka-mereka yang akan menerima kebaikan-kebaikanku di masa mendatang.

Pertolongan sering diminta oleh mereka yang lemah dan sendiri, sehingga ucapan “Anda diterima” menjadi sebuah uluran tangan, pelukan hangat, keamanan dan keselamatan, undangan kebersamaan.

Rasa berterima kasih, buatku, adalah salah satu interaksi antarmanusia yang paling indah, terlebih karena tiap suku bangsa punya pemahamannya sendiri.

Opini

Akhir-akhir ini aku berhenti beropini.

Satu alasan Twitter ramai dipakai di Indonesia adalah karena ia menyediakan tempat seluas-luasnya untuk beropini. Beropini berjamaah sembari mengiyakan satu sama lain jadi aktivitas sehari-hari di situ. Setiap ada kasus baru, manusia-manusia di Twitter cekatan mengisi posisi opini masing-masing: ada yang bagian sarkas, ada yang menyindir halus, ada yang mencerca, ada yang membuat lelucon, ada yang menertawakan lelucon. Sebagian besar yang lain bertugas retweet, atau menekan tombol favorit, atau yang ingin tampak kreatif sedikit boleh menambahkan “!!!” atau “This!” atau “+1”.

Aku pernah juga begitu: pemrotes yang sinis, sarkas, juga penulis lelucon yang tak lucu, tidak peduli pada hal-hal yang menjadi urusanku atau tidak. Segala yang keluar di linimasa, pikirku waktu itu, adalah urusanku.

Akhir-akhir ini aku diam. Aku masih sering merasa kecewa dengan layanan publik, tidak setuju dengan perilaku masyarakat, atau geli mendengar pendapat menyimpang seseorang. Tetapi lalu dalam hati aku mengiyakan dan membenarkan sendiri opini terpendamku. Setelah itu hatiku padam.

Aku tidak tahu apakah ini tanda aku sudah dewasa, ataukah seseorang pada dasarnya akan patah hati dan diam setelah kekecewaan dan segala protesnya tidak menemui hasil apa-apa sekian tahun lamanya. Atau barangkali aku hanya cemburu sebab Twitter lahanku beropini telah diserbu pemilik opini-opini baru yang lebih marah, lebih brilian, lebih lantang dariku.

Tetapi diam dan sengaja tidak tahu kasus-kasus terbaru ternyata alangkah tenteramnya.